Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial, Arti Penting dan Sejarah Kelahirannya

Contohsuratku.net - Pada kesempatan ini kembali kami bagikan sebuah Contoh Pidato tentang Hari Kesetikawanan Nasional sebagai hari penting yang tidak boleh diabaikan, karena dengan adanya peringatan hari seperti ini kita akan menciptkan kerjasama, persatuan dan kesatuan segenap rakyat dan seluruh lapisan masyarakat. dan untuk lebih jelasnya silahkan simak artikel kami tentang Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial, Arti Penting  dan Sejarah Kelahirannya berikut ini :
Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial, Arti Penting  dan Sejarah Kelahirannya
Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial, Arti Penting  dan Sejarah Kelahirannya

Arti dan Makna Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional

Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nilai Dasar Kesejahteraan Sosial, modal sosial (Social Capital) yang ada dalam masyarakat terus digali, dikembangkan dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk bernegara yaitu Masyarakat Sejahtera.

Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata dalam kehidupan kita.

Kesetiakawanan sosial merupakan nilai yang bermakna bagi setiap bangsa. Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial dalam kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia pada hakekatnya telah ada sejak jaman nenek moyang kita jauh sebelum negara ini berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka yang kemudian dikenal sebagai bangsa Indonesia.

Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial tersebut dalam perjalanan kehidupan bangsa kita telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi ancaman dari penjajah yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa.

Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, semangat kesetiakawanan sosial harus senantiasa ditanamkan, ditingkatkan dan dikukuhkan melalui berbagai kegiatan termasuk peringatan HKSN setiap tahunnya.

HKSN yang kita peringati merupakan ungkapan rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita. Peringatan HKSN yang kita laksanakan setiap tanggal 20 Desember juga merupakan upaya untuk mengenang kembali, menghayati dan meneladani semangat nilai persatuan dan kesatuan, nilai kegotong-royongan, nilai kebersamaan, dan nilai kekeluargaan seluruh rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Saat ini kita tidak lagi melakukan perjuangan secara fisik untuk mengusir penjajah, namun yang kita hadapi sekarang adalah peperangan menghadapi berbagai permasalahan sosial yang menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan, keterlantaran, kesenjangan sosial, konflik SARA di beberapa daerah, bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, kekeringan, dll), serta ketidakadilan dan masalah-masalah lainnya.

Sesuai tuntutan saat ini, dengan memperhatikan potensi dan kemampuan bangsa kita, maka peringatan HKSN ( Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional ) ini yang merupakan pengejewantahan dari realisasi konkrit semangat kesetiakawanan sosial masyarakat. Dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai dukungan dan peran aktif dari seluruh komponen/elemen bangsa, bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama secara kolektif seluruh masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, makna nilai kesetiakawanan sosial sebagai sikap dan perilaku masyarakat dikaitkan dengan peringatan HKSN ditujukan pada upaya membantu dan memecahkan berbagai permasalahan sosial bangsa dengan cara mendayagunakan peran aktif masyarakat secara luas, terorganisir dan berkelanjutan. Dengan demikian kesetiakawanan sosial masih akan tumbuh dan melekat dalam diri bangsa Indonesia yang dilandasi oleh nilai-nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai-nilai kesetiakawanan itu sendiri dalam wawasan kebangsaan mewujudkan kebersamaan : hidup sejahtera, mati masuk surga, bersama membangun bangsa.

KESETIAKAWANAN SOSIAL SEBAGAI GERAKAN NASIONAL
Peringatan HKSN menjadi momentum yang sangat strategis sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kesetiakawanan sosial sebagai suatu gerakan nasional sesuai dengan kondisi dan tantangan jaman, kesetiakawanan sosial yang menembus baik lintas golongan dan paradaban maupun lintas SARA harus terus menggelora terimplementasi sepanjang masa, dengan demikian akan berwujud ”There is No Day Whithout Solidarity” (tiada hari tanpa kesetiakawanan sosial), kesetiakawanan sosial tidak berhenti pada harinya HKSN yang diperingati setiap tanggal 20 Desember di Tingkat Pusat, Provinsi dan Kab/Kota serta oleh seluruh lapisan masyarakat berkelanjutan selamanya dan sepanjang masa.

Kesetiakawanan sosial sebagai pengejewantahan dari sikap, perilaku dan jati diri bangsa Indonesia akan dapat menjadi modal yang besar dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini secara bertahap untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh tanah air, apabila nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai kesetiakawanan itu melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kesetiakawanan Terkikis Zaman

Gagasan kesetiakawanan berawal dari solidaritas kerakyatan dan kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Solidaritas muncul karena kesamaan nasib (sejarah), kesamaan wilayah (teritorial), kesamaan kultural, dan bahasa. Menurut Ernest Renan [1823-1892], semua itu merupakan modal untuk membentuk nation. Kesadaran kebangsaan memuncak seiring deklarasi Sumpah Pemuda 1928. Sebuah semangat mengubah ”keakuan” menjadi ”kekamian” menuju ”kekitaan”.

Selanjutnya, kesetiakawanan sosial nasional tumbuh kuat karena faktor penjajahan. Dalam hal ini, kesetiakawanan mengejawantah dalam perjuangan mengusir penjajahan, baik masa prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan. HKSN sendiri bermula dari semangat solidaritas nasional antara TNI dan rakyat dalam mengusir Belanda yang kembali pada 19 Desember 1948. Akhirnya kebersamaan yang dilandasi semangat rela berkorban dan mengutamakan kepentingan bangsa menjadi senjata ampuh untuk memerdekakan bangsa.

Namun, fakta lain menunjukkan, nilai-nilai kesetiakawanan kian terkikis. Saat ini solidaritas itu hanya muncul di ruang politik dengan semangat membela kepentingan masing-masing golongan. Menguat pula solidaritas kedaerahan yang mewujud dalam komunalisme dan tribalisme. Di bidang ekonomi, nilai solidaritas belum menjadi kesadaran nasional, baik di level struktural, institusional, maupun personal.

Menguatnya kesenjangan di berbagai ruang publik merupakan indikator melemahnya kesetiakawanan sosial. Basis-basis perekonomian dikuasai segelintir orang yang memiliki berbagai akses. Juga terjadi kesenjangan antarwilayah, antara pusat dan daerah, antarpulau, antaretnik, dan antargolongan.

Menurut Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah (2006), ada tiga hal yang menggerus nilai kesetiakawanan sosial. Pertama, menguatnya semangat individualis karena globalisasi. Gelombang globalisasi dengan paradigma kebebasan, langsung atau tidak, berdampak pada lunturnya nilai-nilai kultural masyarakat.

Kedua, menguatnya identitas komunal dan kedaerahan. Akibatnya, semangat kedaerahan dan komunal lebih dominan daripada nasionalisme.

Ketiga, lemahnya otoritas kepemimpinan. Hal ini terkait keteladanan para kepemimpinan yang kian memudar. Terkikisnya nilai kesetiakawanan menimbulkan ketidakpercayaan sosial, baik antara masyarakat dan pemerintah maupun antara masyarakat dan masyarakat, karena terpecah dalam aneka golongan.

Menemukan Kembali Besetiakawanan

Dalam perjalanan sejarah, kita memerlukan momentum untuk membangkitkan semangat dan daya implementasi baru. Di tengah krisis finansial global, mungkin sudah saatnya menemukan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial guna menjawab aneka masalah kebangsaan.

Saatnya kita menumbuhkan apa yang disebut Komaruddin Hidayat (2008) grand solidarity untuk kemudian diaplikasi ke dalam grand reality. Grand solidarity adalah rasa kebersamaan untuk membangun bangsa, yang didasarkan atas spirit, tekad, dan visi yang diajarkan founding father’s. Adapun grand reality adalah upaya untuk mengaplikasi masa lalu ke konteks masa kini. Pada level praksis, program-program pembangunan harus dilandasi semangat kesetiakawanan yang diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan. Pemerintah wajib memberi umpan (akses permodalan), memandu bagaimana cara memancing (akses SDM), menunjukkan di mana memancingnya (akses teknologi dan informasi), serta menunjukkan di mana menjual ikannya (akses market).

Di tingkat masyarakat, dapat ditradisikan satu orang kaya yang tinggal di permukiman miskin membantu orang miskin. Inilah yang disebut kepedulian sosial. Jika hal ini dilakukan secara simultan, akan tercipta keharmonisan di tingkat negara maupun kehidupan masyarakat.

Maka, inilah saatnya kita menemukan kembali solidaritas sosial nasional dan jati diri bangsa. Kita harus menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian dalam menghadapi tantangan kebangsaan.

Sejarah Lahirnya Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional

Perang mempertahankan kemerdekaan yang terjadi dari tahun 1945 hingga tahun 1948 mengakibatkan permasalah sosial semakin bertambah jumlahnya.Kementerian Sosial menyadari bahwa untuk menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial tersebut diperlukan dukungan menyeluruh dari unsur masyarakat. Oleh sebab itu, maka pada bulan Juli 1949 di kota Yogyakarta, Kementerian Sosial mengadakan Penyuluhan Sosial bagi tokoh-tokoh masyarakat dan Kursus Bimbingan Sosial bagi Calon Sosiawan atau Pekerja Sosial, dengan harapan dapat menjadi mitra bagi pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial yang sedang terjadi.

Para Sosiawan atau Pekerja Sosial telah bekerja dengan jiwa dan semangat kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan serta kerelaan berkorban tanpa pamrih yang tumbuh di dalam masyarakat dapat diperkokoh, sehingga masyarakat dapat menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial yang timbul saat itu dalam rangka mencapai kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

Nilai kesetiakawanan sosial yang telah tumbuh didalam masyarakat perlu dilestarikan dan diperkokoh.Begitu juga dengan kinerja dan persatuan para sosiawan atau pekerja sosial perlu ditingkatkan. Untuk hal tersebut,maka Kementerian Sosial berinisiatif membuat Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik atau Sikap Sosiawan. Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik Sosiawan diciptakan pada tanggal 20 Desember 1949, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan peristiwa bersejarah bersatunya seluruh lapisan masyarakat untuk mengatasi permasalahan dalam mempertahankan kedaulatan negara, yaitu pada tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah tentara kolonial Belanda menyerbu dan menduduki ibukota negara Yogyakarta.Maka tanggal tersebut oleh Kementerian Sosial dijadikan sebagai HARI SOSIAL.

Hari Sosial atau Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) diperingati pada tanggal 20 Desember setiap tahun sebagai rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita.

Peringatan Hari Sosial atau Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tersebut merupakan upaya untuk mengenang, menghayati dan meneladani semangat persatuan, kesatuan, kegotongroyongan dan kekeluargaan rakyat Indonesia yang secara bahu membahu mengatasi permasalahan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa atas pendudukan kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia oleh tentara Belanda pada tahun 1948.

Adapun sejarah lahirnya Hari Sosial yang pada akhirnya berubah menjadi Hari Kebaktian Sosial, dan berganti lagi menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional adalah sebagai berikut :
  1. HARI SOSIAL ke I atau pertama kali diperingati pada tanggal 20 Desember 1958 dicetuskan oleh Menteri Sosial, H Moeljadi Djojomartono.
  2. Peringatan yang ke XIX tanggal 20 Desember 1976 oleh Menteri Sosial, HMS Mintardja SH. Nama HARI SOSIAL diubah menjadi HARI KEBAKTIAN SOSIAL.
  3. Dan pada Peringatan yang XXVI tanggal 20 Desember 1983 oleh Menteri Sosial, Nani Soedarsono SH. Nama HARI KEBAKTIAN SOSIAL diubah lagi menjadi HARI KESETIAKAWANAN SOSIAL NASIONAL.

Jiwa dan semangat kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan dan kerelaan berkorban tanpa pamrih yang tumbuh di dalam masyarakat tersebut harus dikembangkan, direvitalisasi, didayagunakan dalam kehidupan berbangsa.

Pada saat ini bangsa Indonesia masih berhadapan dengan berbagai masalah kesejahteraan sosial yang meliputi kemiskinan, keterlantaran, ketunaan, keterpencilan dan kebencanaan yang jumlahnya tidak kecil. Sementara pemerintah memiliki kemampuan terbatas, sehingga diperlukan peran serta masyarakat.

Kesetiakawanan sosial masa kini adalah instrumen menuju kesejahteraan masyarakat melalui gerakan peduli dan berbagi oleh, dari dan untuk masyarakat baik sendiri-sendiri maupun secara bersamaan berdasarkan nilai kemanusiaan, kebersamaan, kegotongroyongan dan kekeluargaan yang dilakukan secara terencana, terarah dan dan berkelanjutan menuju terwujudnya Indonesia Sejahtera (INDOTERA).

Peringatan HKSN diharapkan dapat menjadi “alat pengungkit” untuk menggerakkan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang ada dimasyarakat, yang dilaksanakanditingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota dengan berdasarkan pada tiga prinsip, yaitu :
  1. Prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat,yang berarti bahwa kegiatan Peringatan HKSN memerlukan peran aktif seluruh unsur masyarakat, antara lain TNI dan Polri, organisasi sosial/lembaga swadaya masyarakat, unsur generasi muda, lembaga pendidikan, dunia usaha, media massa, pemuka masyarakat dan agama, relawan sosial dan masyarakat secara umum yang didayagunakan untuk kepentingan masyarakat.
  2. Prinsip Tri Daya, yaitu bahwa penyelenggaraan HKSN diharapkan dapat memberdayakan manusia, usaha, dan lingkungan sosial sebagai satu kesatuan.
  3. Prinsip berkelanjutan, bahwa kegitan-kegiatan dalam rangka Kesetiakawanan Sosial Nasional hendaknya dilaksanakan secara terus menerus sepanjang tahun (No Day Without Solidarity) dengan berdasarkan pada kedua prinsip tersebut di atas.
Peringatan Hari Kesetiakawanan sosial Nasioal saat ini dilaksanakan dalam bentuk Gerakan Indonesia Setiakawan yang dimaksudkan sebagai upaya mengarahkan percepatan gerakan Indonesia Peduli menuju terwujudnya Indonesia baru, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan tanggungjawab sosial masyarakat untuk mengkristalisasikan kesetiakawanan sosial serta meningkatkan jumlah masyarakat peduli dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Peringatan HKSN diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada, dengan mengacu pada parameter kesejahteraan :
  1. Terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga negara Indonesia (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan).
  2. Terlindungi hak sipil setiap warga negara (hak memperoleh KTP, Akte Kelahiran, hak berorganisasi, hak mengemukakan pendapat dll).
  3. Terlindunginya setiap warga negara dariberbagai resiko yang bertautan dengan siklus hidup, ketidakpastian ekonomi, resiko kerusakan lingkungan dan resiko sosial maupun politik (kecacatan, konflik, bencana, pengangguran).
  4. Terdapatnyakemudahan memperoleh berbagai aksespelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, ekonomi/keuangan, politik dll).
  5. Terpenuhinya jaminan keberlangsungan hidup bagi setiap warga negara (asuransi, jaring pengamanan sosial, bantuan sosial dan lain-lain).


Nilai moral yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial diantaranya sebagai berikut :
  1. Nilai moral Tolong menolong. Nilai moral ini tampak dalam kehidupan masyarakat, seperti: tolong menolong sesama tetangga. Misalnya membantu korban bencana alam atau menengok tetangga yang sakit.
  2. Gotong-royong, misalnya menggarap sawah atau membangun rumah.
  3. Kerjasama. Nilai moral ini mencerminkan sikap mau bekerjasama dengan orang lain walaupun berbeda suku bangsa, ras, warna kulit, serta tidak membeda-bedakan perbedaan itu dalam kerjasama.
  4. Nilai kebersamaan. Nilai moral ini ada karena adanya keterikatan diri dan kepentingan kesetiaan diri dan sesama, saling membantu dan membela. Contohnya menyumbang sesuatu ke tempat yang mengalami bencana, apakah itu kebanjiran, kelaparan atau diserang oleh bangsa lain.


Sebagai bagian dari unsur nilai, maka kesetiakawanan Sosial dijadikan nilai dasar penyelengggaraan kesejahteraan sosial. Nilai sosial ini terus digali, dikembangkan dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita Indonesia mewujudkan Indonesia sejahtera. Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata dalam kehidupan masyarakat. Jiwa dan semangat tersebut telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi ancaman dari penjajah yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi.

Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial Nasional

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Saudara-saudarasebangsa dan setanah air Indonesia yang berbahagia.
Puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt,karena pada pagi hari ini kita sekalian masih ditaqdirkan oleh Allah Saw bisa berkumpul disini dalam acara memperingati Hari Kesetiakawanan setiap tanggal 20 Desember.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Indonesia yang berbahagia.
Pada tanggal tersebut segenap lapisan bangsa Indonesia mengenang sejarah,bahwasanya para pejuang kita tidak sedikit yang gugur mendahului kita untuk menumpas para penjajah  Belanda yang berdian di kota .......................Mereka para pejuang bermandikan darah,tak pantang mundur,harta dan nyawapun jadi korban,semuanya itu tidak diperdulikan sama sekalai,karena demi bangsa Indonesia yang tercinta ini.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang berbahagia.
Peristiwa ...................... memang sangat mengerikan,bagi kita khususnya generasi muda, dengan peristiwa itu hendaknya generasi muda mampu untuk menciptakan rasa kesetiakawanan,menggalang kesatuan dan persatuan, menghidupkan gotong royong. Agar termasuk ikut mendukung sepenuhnya dalam masa pembangungan ini.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Indonesia yang berbahagia.
Marilah kita bersama-sama berdo’a kepada Allah Swt agar para pejuang kita yang meninggal di medan perang senantiasa mendapat tempat yang baik di sisinya.Mudah-mudahan generasi sekarang dan yang akan datang mampu meneruskan perjuangan bangsa Indonesia.Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan keimanan dan ketaqwaan,serta memimpin bangsa Indonesia tenang,damai,sejahtera,jaya untuk sepanjang masa.

Demikia sambutan sederhana kami yang begitu singkat,mudah-mudahan membangkitkan semangat generasi muda untuk meneruskan para pejuang kita,Ihdinash Shiraatal mustaqiim.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh   

Contoh Pidato Sambutan Presiden Tentang Kesetiakawanan Sosial Nasional

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Hadirin yang saya muliakan,

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri Puncak Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Tahun ...................... Peringatan ini kita laksanakan di ......................, dalam suasana penuh keakraban, kebersamaan, dan persaudaraan. Kita berharap peringatan ini akan memperteguh semangat kesetiakawanan sosial, di antara seluruh lapisan masyarakat. Di tengah suasana peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial tahun ini, kita kembali berduka dengan terjadinya bencana longsor di Solok, Sumatera Barat dan Gempa Bumi di Mandailing Natal, Sumatera Utara. 

Saya ingin mengungkapkan rasa duka cita, atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita, di kedua daerah itu. Marilah kita berdoa, agar saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, tetap tabah menghadapi cobaan ini. Di samping tentunya jajaran pemerintah terutama Pemerintah Daerah melakukan langkah-langkah mengatasi bencana longsor tersebut, saya meminta masyarakat di kedua daerah itu dengan jiwa kesetiakawanan sosial turut memberikan bantuannya dengan tulus.

Hadirin yang saya muliakan,
Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Tahun ...................... mengangkat tema: Dengan Semangat Kesetiakawanan Sosial Kita Tingkatkan Kebersamaan Membangun Bangsa Mewujudkan Masyarakat Sejahtera. Tema ini mengandung pesan yang sangat penting, untuk kita renungkan dan laksanakan bersama. Di tengah kehidupan yang cenderung mementingkan diri sendiri ini, masih adakah kesetiakawanan sosial di antara kita? Masihkah kita memiliki rasa perduli terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul ketika dalam dunia yang makin modern dan mengglobal ini seolah-olah hubungan antar manusia bersifat fungsional dan hanya bertolak dari kepentingan semata.

Sebagai bangsa, kita tidak boleh membiarkan perasaan seperti itu berkembang tanpa kendali. Kita harus membangun bangsa dan negara, di atas kepribadian kita sendiri. Untuk itu perasaan senasib dan sepenanggungan, perasaan kebersamaan dan kegotongroyongan, tetap harus kita jaga dan kita pelihara. Tanpa nilai-nilai itu, bangsa kita akan mengalami krisis identitas. Dunia memang makin mengglobal. Namun, hendaknya globalisasi tidak menyebabkan hancurnya nilai-nilai yang menjadi ciri khas dari suatu bangsa. Nilai-nilai luhur yang kita anut itu adalah warisan bersama yang wajib kita pelihara. Dengan nilai-nilai luhur itu pula bangsa dan negara kita dapat berdiri kokoh.

Kesetiakawanan sosial, dalam pandangan saya, berangkat dari sikap dan perilaku untuk bersimpati dan berempati kepada orang lain. Rasa simpati dapat terjalin secara timbal balik, jika kita saling mengenal dan mendalami. Jika kita bersimpati kepada orang lain, orang lain pun tentu akan bersimpati kepada kita. Sebaliknya, empati dapat terjalin dari seseorang, tanpa harus orang lain berempati kepada kita. 

Di masa perjuangan kemerdekaan kita dulu, nilai-nilai kesetiakawanan sosial terbukti mampu mengantar bangsa kita memperoleh kemerdekaan. Tanpa kesetiakawanan sosial, mustahil akan terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanpa kesetiakawanan sosial, tidak mungkin kita mampu mewujudkan masyarakat yang adil, aman, dan sejahtera yang kita harapkan bersama. Tanpa kesetiakawanan sosial yang kokoh, kita tidak mungkin mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kita harus yakin, bahwa bangsa kita mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dengan modal dasar kesetiakawanan sosial. 

Hadirin yang saya muliakan,
Upaya menanamkan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial, harus dimulai sejak dini. Kita harus memulainya dari lingkungan sosial terdekat. Kita dapat melakukan internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan akhirnya pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di lingkungan keluarga, boleh dikatakan, tidak ada keluarga yang tidak mempunyai masalah. Ada saja anggota keluarga yang menderita sakit, kekurangan biaya, baik untuk keperluan sehari-hari, maupun untuk pendidikan dan kesehatan. Akankah kita membiarkan anggota keluarga kita itu terus-menerus berada dalam kesusahan? Tentu tidak. Anggota keluarga yang lain, tentu berkewajiban untuk membantu. Paling tidak, meringankan kesulitan yang dihadapi. 

Dalam kehidupan masyarakat, di kampung dan di desa, serta di sekitar tempat tinggal kita, orang yang mengalami kesulitan dan kesusahan selalu ada. Akankah warga desa atau para tetangga akan membiarkan saja kesulitan dan kesusahan yang menimpa warga dan tetangganya itu? Tentu tidak boleh. Sesama warga harus saling membantu, apapun yang dapat disumbangkan untuk meringankan kesulitan warga yang lain. Seluruh warga harus merasa bahwa kesulitan yang menimpa satu warga, adalah masalah bersama, yang perlu penanganan bersama. Tentu orang yang mengalami kesulitan juga harus bersikap aktif dan berupaya sungguh-sungguh untuk mengatasinya, tanpa semata-mata mengharapkan bantuan warga yang lain. 

Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di negara manapun, selalu ada warga yang kaya dan yang miskin. Selalu saja ada bencana, baik bencana alam maupun bencana yang lain. Haruskah sebagai bangsa, mereka diam saja menyaksikan musibah yang menimpa saudara-saudara sebangsanya, tanpa rasa peduli? Sebagian orang menganggap, semua itu tanggung jawab Pemerintah, bukan tanggung jawab masyarakat dan dirinya. Pemerintah tentu tidak tinggal diam menghadapi bencana. Namun hal itu tidak berarti bahwa kewajiban sesama warga bangsa untuk saling membantu, menjadi hilang.

Rasa kesetiakawanan, bahkan jauh lebih besar daripada apa yang telah saya sebutkan, yakni perasaan solidaritas terhadap nasib yang menimpa umat manusia. Kalau kita memasuki bidang ini, tidak ada lagi pertimbangan kebangsaan, keagamaan, politik dan sosial budaya. Kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana Tuhan telah berbuat kepada diri kita masing-masing. Jika musibah terjadi di ujung dunia yang tidak kita ketahui persis di mana letaknya, maka jika kita mampu dan dapat berbuat, maka kita wajib untuk membantunya.

Negeri kita, termasuk negeri yang rawan bencana alam. Jangan kita salah mengerti bahwa bencana alam itu terjadi hanya baru-baru ini saja, setelah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Jangan pula kita membawa bencana alam itu kepada hal-yang yang bersifat mistik, dan mengkait-kaitannya dengan masalah politik. Sejak ribuan tahun yang lalu, bencana alam itu selalu melanda negeri kita. 

Letusan gunung berapi di Sumatera yang terjadi lebih seribu tahun yang lalu, telah membentuk danau Toba yang kita kenal sekarang ini. Konon, itulah letusan gunung api paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Letusan itu telah mengubah atmosfir dan cuaca di permukaan bumi. Namun peristiwa itu telah lama sekali, sehingga tidak diingat lagi oleh generasi sekarang. Letusan Gunung Tambora juga telah membentuk kawah yang sangat besar dan menewaskan puluhan ribu orang pada awal abad ke-19. Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, telah menewaskan puluhan ribu orang pula. Abu letusan Gunung Krakatau jatuh sampai ke benua Eropa. Tsunaminya menghantam Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaysia. 

Bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera, serta beberapa wilayah di negara lain, memang merupakan bencana alam terbesar di awal abad ke-21. Bencana itu, telah menggugah kesetiakawanan umat manusia sejagat. Bangsa kita, yang memiliki korban dan kerusakan paling besar, tentu harus menumbuhkan rasa kesetiakawanan yang lebih besar lagi. Kita tentu tidak mengharapkan bencana-bencana lain akan datang menimpa kita. Namun, menyadari posisi geografis kita yang rawan bencana alam, maka saya mengajak seluruh komponen bangsa, marilah kita bangun kesetiakawanan yang lebih besar.

Hadirin yang saya muliakan,
Negara kita juga masih menghadapi masalah kemiskinan dan pengangguran. Kita masih menyaksikan anak-anak jalanan dan pengemis, serta keluarga yang sungguh miskin dan menderita. Kesemuanya itu, memerlukan kesetiakawanan di antara kita. Pengurangan jumlah penduduk miskin dan pengangguran, rehabilitasi anak-anak jalanan dan pengemis, merupakan agenda kita bersama. Upaya itu, mustahil akan terwujud, jika tidak ditunjang oleh keterlibatan semua pihak. Ajaran agama, mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi di antara sesama.

Ajaran agama Islam, misalnya, sangat mendorong umatnya untuk memberantas kemiskinan. Upaya itu wajib dilakukan baik melalui penciptaan tatanan masyarakat yang adil, maupun melalui zakat, infaq, dan shadaqah. Memberikan sebagian rizki yang diperoleh, untuk membantu kaum dhuafa adalah bagian dari Jihad fi Sabilillah. 

Hadirin yang saya muliakan,
Untuk membantu para korban bencana, mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran, selain bentuk solidaritas, kita pun perlu memberikan pertolongan sosial. Pertolongan sosial ini, bukan sekedar ”memberi ikan”, tetapi ”memberi kail” agar saudara-saudara kita dapat bangkit, menyongsong hari esok yang lebih baik. Kita harus mampu menggali kekuatan sendiri. Mampu mendayagunakan segala kemampuan yang ada, untuk mengubah jalan hidup kita. 

Gerakan kemasyarakatan untuk memberikan pertolongan sosial ini perlu dilakukan dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, meskipun pemerintah juga terus melakukan upaya untuk pengurangan kemiskinan ini secara nyata. Perlu saya sampaikan bahwa anggaran yang dialokasi-kan untuk mengurangi kemiskinan jumlahnya terus meningkat. Tahun ...................... yang lalu anggaran ini berjumlah ...................... meningkat menjadi ......................, tahun ...................... Rp ...................... dan tahun ...................... mendatang meningkat lagi menjadi Rp ....................... 

Hadirin yang saya muliakan,
Untuk mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih, kepada dunia usaha yang telah terlibat dalam pemberdayaan sosial, melalui program Corporate Social Responsibilty (CSR). Saya minta program ini tidak dipandang sebagai pengurangan keuntungan usaha, namun justru CSR harus dianggap sebagai penyertaan/penambahan modal. 

Kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi sosial, baik dari dalam maupun luar negeri, serta individu-individu yang telah tergerak untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial, saya juga mengucapkan terima kasih. Sekali lagi saya mengajak, agar implementasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial dapat terus kita lakukan sepanjang masa, dan menjadikannya sebagai sebuah Gerakan Nasional yang nyata.

Akhirnya, melalui Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Tahun ......................, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memperkokoh Gerakan Nasional Kesetiakawanan Sosial.

Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Demikian artikel dari kami tentang Contoh Pidato Sambutan Tentang Kesetiakawanan Sosial, Arti Penting  dan Sejarah Kelahirannya yang sempat kami bagikan pada kesempatan ini dan jangan lupa baca juga :