Menulis Cerpen Pengalaman Orang Lain, Pengertian, Struktur, Unsur, Ciri, Langkah & Contoh

Contohsuratku.net - Untuk dapat mengerti mengenai tata cara penulisan cerpen, silahkan ikuti penjelasan kami berikut ini :

Pengertian Cerpen

Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek. Maksud dari cerita pendek disini adalah ceritanya kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata atau kurang dari 10 (sepuluh) halaman. Cerpen biasanya hanya memberikan kesan tunggal yang demikian dan memusatkan diri pada satu tokoh dan satu situasi saja. Cerpen adalah jenis karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang kehidupan manusia lewat tulisan pendek. cerpen juga bisa disebut sebagai karangan fiktif yang berisikan tentang sebagian kehidupan seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh saja. Menurut pendapat beberapa ahli cerpen dapat diartikan sebagai berikut :
Menulis Cerpen Pengalaman Orang Lain, Pengertian, Struktur, Unsur, Ciri, Langkah & Contoh
Menulis Cerpen Pengalaman Orang Lain, Pengertian, Struktur, Unsur, Ciri, Langkah & Contoh
Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan (Kosasih dkk, 2004:431).

Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan, 1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Menurut menurut, H.B. Jassin Sang Paus Sastra Indonesiamengatakan bahwa: yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, & penyelesaian.

Sedangkan menurut, A. Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa: yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500 – 20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, & adanya satu kesan.

Dan menurut, Aoh. KH, mendefinisikan bahwa: cerpen adalah salah satu ragam fiksi / cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.

Struktur Cerpen

Dalam pembuatan cerpen kita juga harus mengetahui tentang kerangka atau struktur dari sebuah cerpen. Adapun struktur cerpen itu sendiri  terdiri dari abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi dan koda. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas kerangka tersebut satu persatu:

1. Abstrak

Abstrak adalah ringkasan dari sebuah cerita. Abstrak merupakan inti dari cerita yang akan dikembangkan menjadi beberapa rangkaian kejadian. Abstrak juga bisa disebut sebagai gambaran awal dalam cerita. Abstrak bersifat opsional yang mana dalam sebuah cerpen, kita boleh tidak menggunakan abstrak.

2. Orientasi

Orientasi adalah hal-hal yang berhubungan dengan suasana, tempat dan waktu yang ada dalam cerita tersebut. Biasanya orientasi tidak hanya terpaku pada satu tempat, suasana dan waktu. Karena dalam sebuah cerita terdapat banyak kejadian dan tokoh yang berbeda-beda.

3. Komplikasi

Komplikasi merupakan rangkaian kejadian-kejadian yang berhubungan dan ber risikan tentang sebab akibat kejadian sebuah cerita. Dalam struktur ini kamu bisa menentukan watak atau karakter dari tokoh cerita. Watak atau karakter dari tokoh dapat muncul karena kerumitan permasalahan yang mulai terlihat.

4. Evaluasi

Evaluasi yaitu struktur dari konflik-konflik yang terjadi dalam cerita yang mengarah pada titik klimaks atau puncak permasalahan dan mulai mendapatkan gambaran penyelesaian dari konflik tersebut. Struktur ini merupakan struktur yang sangat penting. Karena struktur ini sangat menetukan menarik tidaknya suatu cerita. Dalam struktur ini penulis dapat menyajikan konflik-konflik yang mampu mebuat hati pembaca terbawa suasana. Sehingga pembaca lebih menghayati dan menjiwai karakter yang ada dalam cerita ini.

5. Resolusi

Resolusi merupakan penyelesaian dari evaluasi. Biasanya resolusi sangat dinanti-nati oleh pembaca, karena pada struktur ini pengarang memberikan solusi mengenai permasalahan yang dialami seorang tokoh atau pelaku dalam cerita.

6. Koda

Koda ialah nilai ataupun pelajaran yang dapat diambil dari suatu cerita. Koda merupaka hikmah yang terkandung dalam cerita. Koda biasanya dapat diketaui setelah pembaca semua cerita dalam cerpen yakni dari permulaan hingga ahir dari cerita. Koda dapat berupa nasehat, pelajaran dan peringatan bagi pembacanya.

Unsur Intrinsik Cerpen

Dalam sebuah cerpen terdapat unsur-unsur interinsik yang wajib kamu ketahui. Unsur-unsur ini sangat penting dalam pebuatan sebuah cerpen. Unsur unsur tersebut antara lain tema, alur/plot, seting/latar, tokoh/pelaku dan penokohan/perwatakan. Adapun uraian dari unsur-unsur tersebut apat kamu ahami sebagai berikut:

1. Tema

Tema merupakan gagasan pokok atau ide pokok sebuah cerita. Pada umumnya tema dapat di bagi menjadi dua. Yakni tema yang dapat langsung terlihat jelas di dalam cerita (tersurat) tanpa harus menghayati ceritanya dan tema yang tidak langsung terlihat jelas , yakni pembaca harus bisa menyimpulkan sendiri tema yang terkandung dalam cerita tersebut (tersirat). Misalkan, tema tentang asmara, pendidikan, kesehatan, kepahlawanan dll.

2. Alur (Plot)

Alur atau plot adalah jalan cerita sebuah karya sastra. Secara garis alur dalam sebuah cerita dapat di gambarkan sebagi berikut:
  • Perkenalan tokoh
  • Mucul konflik atau permasalahan yang dihadapi tokoh
  • Peningkatan konflik hingga puncak konflik atau klimaks
  • Penurunan konflik
  • Penyelesaian dari masalah
  • Dalam membuat alur atau plot penulis harus memperhatikan karakter tokoh  yang akan di ceritakan. Biasanya semakin baik karakter tokoh maka semakin besar konflik yang akan timbul.


3. Setting atau latar

Setting atau latar merupakan hal-hal yang berkaitan dengan tempat, waktu, dan suasana dalam cerita tersebut. Seting atau latar biasanya berhubungan eret dengan tema cerpen misalnya jika cerpen bertemakan pendidikan maka setingnya berada di sekolahan, jika cerpen bertemakan agama maka setingnya berada di tempat ibadah.

4. Tokoh Atau Pelaku

Tokoh merupakan pelaku pada sebuah cerita. Setiap tokoh biasanya mempunyai karakter tersendiri mulai dari watak , sikap, sifat dan kondisi fisik. Karakter tokoh dalam sebuah cerpen dapat pula disebut dengan perwatakan. Dalam sebuah cerita kita dapat mengolongkan karakter tokoh dalam 3 jenis yaitu:

Tokoh protagonis (tokoh utama dalam sebuah cerita atau tokoh yang memerankan peran menjadi orang baik),
tokoh antagonis (lawan dari tokoh utama atau tokoh yang memerankan peran menjadi orang jahat)
tokoh figuran (tokoh pendukung untuk cerita atau tokoh yang mendampingi tokoh protagonis).

5. Penokohan (perwatakan)

Penokohan adalah pemberian karakter pada setiap tokoh dalam cerita. karakter yang telah ditentukan akan tercermin pada pikiran, tindakan, ucapan, serta pandangan tokoh terhadap peristiwa yang terjadi. Metode yang digunakan untuk menetukan karakter suatu tokoh  ada 2 (dua) macam yaitu:

Metode analitik
Metode analitik adalah metode yang digunakan untuk menetukan karakter tokoh dengan cara memaparkan ataupun menyebutkan sifat tokoh secara langsung. Contoh : penyayang, lemah lembut, pemberani, tegas, pemalu, egois, ringan tangan, ramah, ceria, lugu, kreatif, dll.

Metode dramatik
Metode dramatik adalah suatu metode yang digunakan untuk menetukan karakter tokoh dengan cara tidak langsung menggambarkan sifat tokoh. Penggambaran tokoh dilakukan melalui percakapan yang dilakukan oleh tokoh lain. Metode ini dapat juga disebut sebagai  metode reaksi tokoh lain (berupa pandangan, pendapat, sikap, dsb).

6. Sudut Pandang (Point of View)

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam memandang suatu peristiwa di dalam sebuah cerita. Ada beberapa macam sudut pandang, diantaranya yaitu:

Sudut pandang orang pertama
Yakni pengarang memposisikan dirinya sebagai tokoh utama yang berbicara dalam kisah tersebut. Sudut pandang orang pertama juga di sebut sebagai kata ganti orang pertama (orang yang berbicara). Dimana jika dalam bentuk tunggal, maka mengunakan kata “aku , saya” dll. Dan jika dalam bentuk jamak, maka mengunakan kata “kami dan kita”.

Sudut pandang orang kedua
Yakni pengarang memposisikan dirinya sebagai tokoh yang di ajak bicara. Sudut pandang orang kedua juga di sebut sebagai kata ganti orang kedua (orang yang di ajak bicara). Dimana jika dalam bentuk tunggal, maka mengunakan kata “kamu, engkau, saudara, anda” dll. Dan jika dalam bentuk jamak, maka mengunakan kata “kalian”.

Sudut pandang campuran.
Yakni pengarang memposisikan dirinya sebagai tokoh yang membicarakan tokoh utama. Sudut pandang campuaran juga di sebut sebagai kata ganti orang ketiga (orang yang dibicarakan). Dimana jika dalam bentuk tunggal, maka mengunakan kata “ia, dia, beliau” dll. Dan jika dalam bentuk jamak, maka mengunakan kata “mereka”.

7. Amanat atau pesan

Yakni pesan yang ingin disampaikan oleh seorang pengarang melalui karya tulisnya kepada pembaca atau pendengar. Pesan bisa berupa harapan, nasehat, dan sebagainya. Pesan merupakan hal penting dalam sebuah cerpen, karena dengan pesan yang baik pengarang dapat menyajikan cerita yang baik sehingga tokoh-tokoh dalam ceritanyapun dapat diteladani.

Unsur Ekstrinsik Cerpen

Unsur ekstrinsik cerpen adalah unsur yang terdapat di luar cerpen. Unsur ekstrinsik dari cerpen merupakan usur yang menjadi faktor pengarang membuat cerpen tersebut. Unsur ini sangat mempengaruhi penyajian amanat dan  latar belakang dari cerpen. Unsur eksterinsik cerpen dibagi menjadi 2 yakni :

1. Latar belakang masyarakat

Kondisi latar belakang masyarakat seorang penulis sangatlah berpengaruh besar terhadap terciptanya sebuah cerita. Kondisi itu bisa berupa pengkajian Ideologi negara, kondisi politik negara, kondisi sosial masyarakat, kondisi lingkungan sekitar, sampai dengan kondisi ekonomi masyarakat.

2. Latar belakang pengarang

Latar belakang pengarang meliputi pemahaman kita terhadap sejarah hidup dan sejarah hasil karangan yang telah diciptakan. Semakin banyak karya sastra yang pernah ditulis maka semakin baik pula karya sastra tersebut. Latar belakang pengarang dapat dikelompokkan kedalam 3 faktor yakni:

Biografi, yakni riwayat hidup pengarang cerita, yang ditulis secara keseluruhan. Mulai dari jenjang pendidikan yang paling rendah hinga jenjang terahir yang telah ditamatkan.

Kondisi psikologis, yakni berisi mengenai pemahaman kondisi mood atau keadaan saat seorang pengarang menulis sebuah cerita atau cerpen.

Aliran Sastra, seorang penulis pastinya mengikuti aliran sastra tertentu. Hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar pada gaya penulisan yang dipakai oleh penulis dalam menciptakan sebuah karya sastra.

Ciri-Ciri Cerpen

Ciri-ciri dari sebuah cerpen adalah sebagai berikut:
  1. Terdiri kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata.
  2. Habis dibaca dengan sekali duduk.
  3. Isi dari cerita berasal dari kehidupan sehari-hari.
  4. Penggunaan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca.
  5. Bersifat fiktif.
  6. Hanya mempunyai 1 alur saja.
  7. Bentuk tulisan yang singkat lebih pendek dari Novel.
  8. Penokohan dalam cerpen sangat sederhana.
  9. Mengangkat beberapa peristiwa saja dalam hidup.
  10. Kesan dan pesan yang ditinggalkan sangatlah mendalam sehingga si pembaca ikut merasakan isi dari cerpen tersebut.
  11. Fungsi Sastra dalam Cerpen
  12. Fungsi sastra dalam cerpen dibagi dalam lima golongan yaitu :


  • Fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur para penikmat atau pembacanya.
  • Fungsi didaktif, yaitu mengarahkan dan mendidik para penikmat atau pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
  • Fungsi estetis, yaitu memberikan keindahan bagi para penikmat atau para pembacanya.
  • Fungsi moralitas, yaitu fungsi yang mengandung nilai moral sehingga para penikmat atau pembacanya dapat mengetahui moral yang baik dan tidak baik bagi dirinaya.
  • Fungsi relegiusitas, yaitu mengandung ajaran agama yang dapat dijadikan teladan bagi para penikmatnya atau pembacanya.


Langkah langkah menulis cerpen

Sebuah cerpen dapat disusun dengan mengikuti langkah langkah menulis cerpen berikut :

1. Mengadakan observasi atau pengamatan

Mengadakan observasi atau pengamatan merupakan tahap pertama dalam cara praktis menulis cerita cerpen atau cara membuat cerpen. Cara Observasi dapat dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung. Selain itu, observasi dapat dilakukan dengan mengingat atau mendengarkan kejadian yang dilakukan oleh orang lain.

Contoh observasi atau pengamatan dalam menulis cerpen:
Teman Anda menceritakan peristiwa yang terjadi di pegunungan saat ia berlibur. Pegunungan itu dapat dijadikan latar tempat dalam cerpen Anda.

2. Menentukan tema

Tahap kedua dalam cara menulis atau cara membuat cerpen yaitu menentukan tema. Tema cerpen sering disebut ide cerpen. Tema dapat Anda tentukan dari hasil observasi yang telah dilakukan, misalnya kehidupan di pegunungan.

3. Menentukan latar

Cara berikutnya dalam membuat atau menulis cerpen yaitu menentukan latar. Seluruh hasil observasi yang telah dilakukan dapat Anda gunakan untuk menciptakan latar. Latar yang Anda buat harus sesuai dengan tema yang Anda tentukan. Anda juga harus ingat bahwa latar terdiri atas latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.

Contoh menentukan latar cerpen:
latar tempat : di pegunungan
latar waktu : senja hari
latar suasana : menyenangkan

4. Menciptakan tokoh

Cara untuk menulis sebuah cerpen atau cara membuat cerpen pada tahap ke-4 yaitu menciptakan tokoh. Anda dapat menciptakan tokoh dari orang-orang yang diceritakan oleh teman Anda atau orang-orang yang mengalami peristiwa yang Anda lihat. Anda dapat mengganti nama tokohnya. Anda harus menentukan tokoh utama dalam cerpen yang akan Anda buat. Jangan lupa, Anda juga harus menentukan watak dan bentuk fisik tokoh-tokoh yang Anda ciptakan.

Contoh menciptakan tokoh dalam cerpen:
Tokoh utama: Ida
Ida seorang siswa SMA yang peduli dengan lingkungan. Ia seorang wanita yang berumur tujuh belas tahun yang berambut panjang dan lurus. Kulitnya yang putih dan halus menambah kecantikannya.

5. Menciptakan konflik

Tahap ke-5 dalam cara membuat cerpen atau menulis cerpen yaitu menciptakan konflik. Konflik adalah pertentangan atau ketegangan dalam sebuah cerpen. Konflik dapat mengangkat masalah yang terjadi dalam peristiwa yang diceritakan teman Anda atau masalah yang terjadi dalam peristiwa yang Anda lihat.

Contoh menciptakan konflik dalam menulis cerpen:
Misalnya, Anda melihat pertengkaran antar anak. Anda dapat mengangkat penyebab pertengkaran itu menjadi sebuah konflik dalam cerpen.

6. Menentukan sudut pandang

Tahap ke-6 dalam cara menulis atau membuat cerpen yaitu menentukan sudut pandang. Sudut pandang yang akan Anda gunakan harus sesuai dengan cara Anda menceritakan tokoh utama. Contoh: Sudut pandang persona ketiga ”ia”.

7. Menentukan alur

Pada tahap ke-7 dalam menulis atau cara membuat cerpen yaitu menentukan alur. Untuk mempermudah menuliskan cerita ke dalam cerpen, Anda harus menentukan alur. Anda akan menggunakan alur maju, alur mundur, ataukah alur campuran.

8. Menulis cerpen

Pada tahap ke-8 cara mudah menulis cerita cerpen atau cara membuat cerpen yaitu mengembangkan tema yang ada atau bisa dikatakan kita mulai menulis cerpen tersebut. Kembangkanlah tema yang telah Anda tentukan menjadi sebuah cerpen. Cerpen yang Anda tulis harus memuat latar, tokoh, konflik, sudut pandang, dan alur yang telah Anda tentukan. Gunakanlah katakata sederhana dan komunikatif. Perhatikan pula ejaan dan pilihan kata yang Anda gunakan.

9. Menentukan judul

Sedangkan tahap terakhir cara membuat cerpen atau menulis cerpen yaitu menentukan judul. Judul dapat Anda tentukan saat akan menulis atau sesudah menulis. Judul cerpen harus sesuai dengan tema dan peristiwa-peristiwa cerpen.

Contoh menentukan judul dalam menulis cerpen:
Tema cerpen : kehidupan di pegunungan
Judul cerpen : Senja di Pegunungan

Contoh Cerpen Berdasarkan Pengalaman Orang Lain

Hari Pertama di Sekolah

Pengalaman baru merupakan sebuah hal yang selalu menyenangkan karena akan ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dijadikan sebuah pelajaran hidup untuk di masa yang akan datang. Hal ini lah yang terjadi dengan kisah yang aku alami pada Hari pertamaku di sekolah. Ketika aku masih berumur 6 tahun, aku merasakan suatu perubahan yang sangat berbeda pada hari – hariku. Aku dipaksa oleh ibuku untuk ke sekolah. Hari itu aku sangat takut karena aku tidak pernah mengetahui apa itu sekolah dan tidak tahu apa yang akan aku lakukan di sekolah.

Pada hari itu, angin subuh masih bertiup dengan sangat dingin hingga menusuk tulang. Karena tidak tahan dengan dingin yang masuk melalui jendela kamar, aku pun menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh tubuhku, lalu di balik selimutku, aku mendengar pintu kamarku yang dibuka dan langkah kaki yang masuk menuju tempat tidurku. Dengan tangannya yang lembut dia menggoyang – goyangkan tubuhku sambil sesekali memanggil namaku. 

"Ini masih terlalu pagi Mahhh!" Aku mengerang saat ibuku menarik selimut dari kepalaku sehingga cahaya matahari pagi masuk melalui jendela dan membanjiri mataku.Mataku berjuang untuk menyesuaikan perubahan cahaya yang terjadi mendadak. Warna-warna kabur yang bercampur dengan warna kamarku menyerang mataku sehingga membuat nuansa warna aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Bayangan aneh itu semakin jelas dan membentuk sebuah tubuh yang ternyata adalah ibuku.

"Mengapa aku harus bangun sepagi ini Maah?" rengekku

"Karena ini sudah waktunya untuk ke sekolah," jawabnya, sambil mengangkatku keluar dari tempat tidur yang hangat menuju lantai keramik kamarku yang dingin. 

"Mandi sana, dan pakai seragam barumu. Ibu akan mengeluarkan mobil di dalam garasi,” perintah ibuku.

Setelah menjalani rutinitas pagiku, seperti menyikat gigi dan berpakaian, aku menuju meja makan untuk menyatap sarapan pagi yang telah disediakan oleh ibu. Setelah itu, aku mengambil tas dan meletakkannya di punggung, tiba – tiba saja aku merasakan tas itu seperti terisi bebatuan yang sangat berat. Dengan susah payah aku menuju mobil yang telah disiapkan oleh ibuku.

Hari itu sangat tenang sekali, satu - satunya suara yang kudengar adalah suara gemeretak lembut mesin mobil yang sedang digas oleh ibuku, lalu ibuku pun mengendarai mobil tersebut menuju sekolah baruku.

Setelah sepuluh sampai lima belas menit berkendara suara mesin mobil tiba - tiba terhenti, saat itulah aku mengetahui bahwa kami telah tiba di sekolah. Pada awalnya saya tidak yakin dengan tempat ini, pagar sekolah yang memiliki dekorasi tampak seperti ujung tombak sedangkan gerbangnya memiliki sebuah gembok besar yang menggantung.

Ketika ibu mengajakku masuk ke dalam koridor sekolah menuju ruang kepala sekolah. Aku masih belum begitu paham dengan sekolah. Yang aku tahu dari televisi yang aku tonton, sekolah adalah tempat yang sangat menyeramkan dengan banyak sekali orang – orang jahat dan kejam yang disebut dengan guru. Ketakutanku semakin menjadi saat melihat pagar dan gerbang sekolah tadi yang menyerupai kastil vampire yang menyeramkan. Saat itu aku membayangkan hari – hari ku yang akan menjadi sangat menyeramkan. 

Setelah sampai di ruang kepala sekolah, ibuku membawaku masuk dan menemui seorang guru yang ternyata merupakan kepala sekolah. Ketika melihatku dia tersenyum hangat dan menyapaku dengan sangat ramah. Sontak hal tersebut membuat persepsi tentang sekolah yang ada di otakku sedikit runtuh. Aku duduk termenung di sebuah kursi, sementara batin dan otakku masih saja bertengkar mengenai apa itu sekolah. Otakku mengatakan sekolah itu menyeramkan, sementara batinku mengatakan sekolah itu sangat menyenagkan.

Ketika ibuku selesai berbincang dengan kepala sekolah, kami diantar menuju ruangan yang akan menjadi kelasku. Ruangan itu adalah kelas B7 yang berada di ujung dekat dengan kamar mandi. Ibuku kemudian bertanya "Apakah kamu suka sekolah mu?"

"Aku tidak yakin," jawabku

"Aku akan menjemputmu ketika pulang," 

Ternyata ibuku tidak ikut masuk ke kelas bersamaku. Dia pergi meninggalkanku sendiri dengan guru itu. Aku semakin khawatir dan takut. Namun, ketika aku dibawa masuk ke ruangan itu, aku melihat ruangan dengan dinding yang dipenuhi dengan lukisan warna – warni. Semua anak – anak di sana, memandangku dengan sangat ramah, lalu guru kelas yang ku kira mengerikan memberi salam dan mengantarku ke tempat duduk. Setelah itu runtuh sudah persepsiku tentang sekolah yang menyeramkan, ternyata sekolah itu menyenangkan karena aku bisa bertemu dengan guru – guru yang sangat baik, dan memiliki teman yang sangat banyak.

Sejak hari itu aku selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Dari pengalamanku ini aku mempelajari satu hal bahwa jangan percaya dengan apa yang dikatakan di film sebelum kita melihat dan merasakannya sendiri, dan jangan mengangap sebagian sebagai keseluruhan karena belum tentu yang kita lihat itu merupakan gambaran umum hal tersebut. 
Demikian artikel tentang Menulis Cerpen Pengalaman Orang Lain, Pengertian, Struktur, Unsur, Ciri, Langkah & Contoh yang sempat kami bagikan pada kesempatan ii dan semoga apa yang kami bagikan ini bermanfaat dan jangan lupa baca juga :