Mendiskusikan dan Mengemukakan Hal Menarik dari Isi Cerita Pendek Bhs. Indonesia Kls. X

Contohsuratku.net - Menaggapi banyaknya yang tidak mengerti masalah diskusi khussnya para pelajar yang baru melaksanakannya, olehkarena itu pada kesempatan ini kami kembali berbagi sebuah artikel tentang Mendiskusikan dan Mengemukakan Hal Menarik dari Isi Cerita Pendek Bhs. Indonesia Kls. X
Mendiskusikan dan Mengemukakan Hal Menarik dari Isi Cerita Pendek Bhs. Indonesia Kls. X
Mendiskusikan dan Mengemukakan Hal Menarik dari Isi Cerita Pendek
Bhs. Indonesia Kls. X

Aturan Dasar Pelaksanaan Diskusi

Sebuah diskusi akan berlangsung aman dan menari jika para peserta mengerti dan memahami aturan aturan yang ada dalam pelaksanaan diskusi itu sendiri. Dan untuk itu silahkan ikuti penjelasan kami berikut ini :

A. Pengertian Diskusi

Kata diskusi berasal dari kata discussus (Latin) yang berarti bertukar pendapat. Diskusi pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu masalah atau untuk memecahkan suatu masalah secara bersama-sama.  Berikut beberapa pengetian diskusi:
  1. Diskusi adalah bentuk komunikasi dua arah yang merupakan satu bentuk tukar pikiran atau pembicaraan   secara teratur dan terarah mengenai suatu masalah.
  2. Diskusi adalah suatu cara bertukar pikiran yang dilakukan melalui jalan musyawarah.
  3. Diskusi adalah bertukar pikiran mengenai suatu masalah yang sifatnya actual dan menyankut kepentingan  umumdan keputusan yang diambil secarah musyawarah.


 B.  Tujuan Diskusi

  1. Mendapatkan suatu pengertian tentang perbedaan dan kesamaan pendapat.
  2. Mengadakan kesepakatan
  3. Memperoleh keputusan bersama mengenai suatu masalah
  4. Belajar dari orang lain dari banyak hal
  5. Menilai pendapat orang lain
  6. Mengemukakan ide sendiri untuk diuji dan dinilai kebenarannya.


C.  Pihak-pihak yang yang terlibat dalam diskusi

  1. Moderator                    :  pemimpin diskusi atu pengendali diskusi
  2. Peserta (audience)       : satu kelompok atau dapat dibagi beberapa kelompok
  3. Peninjau                      :  Penyelenggara atau pembina
  4. Pengunjung                  :  pemerhati atau hanya sebagai penonton


F.  Syarat-Syarat Moderator yang Baik

  1. Mengerti aturan diskusi
  2. Ssabar, rendah hati, dan menguasai pendapat setiap pembicara
  3. Jujur, ramah dan tidak berat sebelah
  4. Dapat menghidupkan suasana diskusi
  5. Dalam memberikan tanggapan selalu bersifat obyektif


G.  Syarat-Syarat Peserta diskusi  yang Baik

  1. Memenuhi aturan main diskusi
  2. Memahami dan menguasai materi diskusi 
  3. Aktif mengembangkan buah pikiran
  4. Menghargai pendapat orang lain 
  5. Menghindari fifat emosional
  6. Berbicara dengan sopan dan jelas serta tidak berbelit-belit
  7. Tidak takut dikritik dan berani melontarkan pikiran
  8. Berani berpendapat dan berbicara dengan terbuka.
  9. Aktif dari awal hingga selesai
  10. Tidak mengecewakan orang lain


H.  Tata Pelaksanaannya

Dalam pelaksanaan diskusi kelompok, beberapa orang bertukar pikiran tentang masalah khusus untuk mencari pemecahannya.  Masalah yang yang didiskusikan harus dirumuskan sebaik-baiknya sehingga terbatas pada masalah yang kongkrit sehingga tidak ada beberapa masalah yang dibahas berulang-ulang atau  timpang tindih.  Seperti pada cara mengemukakan pendapat dalam diskusi berikut:
  1. Menggunakan bahasa yang baik, logis dan masuk akal.
  2. Harus langsung mengena pada pokok persolan.
  3. Menghilangkan rasa emosional dan jangan memaksakan kehendak pendapanya harus diterima.
  4. Materi pembicaraaan jangan menjatuhkan orang lain atau menjelekkan orang lain.
  5. Dalam mengemukakan pendapat merupan solusi bukan menambah permasalahan.


I. Contoh Kata-kata yang Tidak Cocok dan Kata-kata yang Cocok Digunakan Dalam Diskusi

Berikut contoh kata yang dapat digunakan untuk menyangga pendapat  yang baik:
  • Kurang sependapat
  • Kurang dapat diterima
  • Perlu ditinjau kembali
  • Belum sesui dengan pokok permasalahan
  • Kurang sesuai
  • Mungkin ada pendapat yang lain

  
Berikut contoh kata yang dapat digunakan untuk menerima pendapat  yang baik:
  • Pendapat anda sesuai dengan tujuan
  • Saya setuju
  • Pendapat anda sangat bagus
  • Pendapat anda obyektif
  • Pendapat anda merupakan solusi terbaik


J. Tugas dan Tanggungjawab Pemandu diskusi

Untuk mendapatkan hasil akhir diskusi yang baik, dan dapat diterima oleh semua pihak, maka sebuah diskusi harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam berdiskusi, apa saja yang termasuk prinsip-prinsip dalam berdiskusi? Berikut penjelasannya:

Dalam diskusi yang sehat perlu dipimpin oleh seorang pemandu. Tugas pemandu dalam diskusi antara lain sebagai berikut:
  1. membuka diskusi
  2. mengendalikan jalannya diskusi agar tidak terjadi debat kusir dalam diskusi
  3. mengatur lalu lintas komunikasi di antara peserta
  4. menyimpulkan hasil diskusi.
  5. menutup diskusi.


Ada beberapa hal yang biasanya dilakukan oleh seorang pemandu dalam memimpin diskusi, antara lain sebagai berikut:
  1. mengucapkan salam,
  2. menyampaikan terima kasih,
  3. mengutarakan tujuan diskusi, dan acara diskusi secara garis besar.
  4. menutup diskusi dengan menyampaikan simpulan hasil diskusi, ucapan terima kasih, harapan-harapan, serta salam penutup.

K. Contoh Cerita Pendek yang Bagus Didiskusikan

Transportasi Plastik Bapak

Cerpen Karangan: Diana Astari

Suara ayam berkokok terdengar begitu nyaring menembus lubang-lubang bilik kamarku. suara tumbukan halu yang beradu dengan lisung membangunkan aku dari lelapku yang nyenyak. Segera ku tersadar dan mengingat bahwa hari ini adalah hari senin. Aku bergegas mengambil handuk dan melesat menuju sumur yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku melewati ibu yang sedang sibuk menumbuk padi untuk persediaan makan tiga hari kedepan. Beberapa detik saja aku memperhatikan ibu, dan melanjutkan kembali niatku untuk mandi di sumur yang ada di belakang rumahku.

Hari ini aku bersyukur karena masih terbangun sepagi ini. Jarum Jam dari arloji tua Bapak yang tergantung di dinding bilik rumahku telah menunjukkan pukul 7:24 menit. Masih ada waktu untuk tetap pergi ke sekolah. Tapi, mengingat jarak dan perjalananku ke lokasi sekolah, membuat aku sedikit khawatir akan tertinggal pelajaran begitu jauh. Kuharap Bu guru memaklumiku lagi.

“Emak, kenapa tidak membangunkan Ncung tadi pagi?. Ncung kan hari ini sekolah”. Tanyaku pada ibu saat menyiapkan nasi remas untuk bekalku.
“Emak sudah membangunkanmu cung, tapi kamu cuma membalikan badan dari tengkurep jadi terlentang, terus tidur lagi. Ya sudah emak pikir kamu gak mau masuk sekolah.” Jawab Emak dengan nada yang sangat lembut dan menyodorkan nasi remas dengan lauk makan oseng daun singkong dan sambal cabai hijau yang dibungkus dengan daun pisang. Beberapa menit Aku terdiam, karena merasa bersalah.
“Mak, Bapak kemana? Dari Tadi Ncung tidak melihatnya.” Tanya ku kemudian.
“Bapakmu pergi ke warung-warung mencari plastik.” Jawab Emak sembari melanjutkan kesibukannya menumbuk pagi.
“Emang plastik yang biasa kemana mak?.”
“Dipake Bapakmu kemarin, untuk wadah benih pagi.”
Aku terdiam lagi. Sebenarnya perasaanku semakin gelisah, karena sudah waktunya aku berangkat ke sekolah, tapi Bapak belum juga datang. Dan tidak lama kemudian, tubuh Bapak yang kekar mulai terlihat dari kejauhan. Muncul dari sela-sela kerumunan pohon pisang yang ada di belakang rumahku. Aku bernapas lega dan menghampiri Emak untuk menyalaminya dan berpamitan.
“Mak, Ncung berangkat ya.!”
“Iya nak, belajar yang bener ya!”
“Iya Mak, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” balas Emak.
Tak lama kemudian Bapak Memanggil dari luar.
“Ncuuung!! Ayoo! sudah siang.!”
“Iya Pak!” Sahutku sedikit berteriak dan bergegas meghampiri Bapak.

Aku berjalan membuntut di belakang Bapak. Menyusuri jalanan setapak yang membawaku menuju ke sebuah sungai. Seperti biasa perjalanan ku ke sekolah, selalu diiringi oleh kicauan burung yang terhinggap di pepohonan yang rindang di sebelah kiri dan kananku. Namun, Kesejukan pagi ini sedikit tidak kunikmati, karena kegelisahan menemaniku hari ini. Langkah Bapak semakin cepat, aku sampai sedikit berlari-lari mengejarnya.
“Ayo Cung, cepat! Jangan sampai kamu terlalu terlambat masuk sekolah.” Ucap Bapak dengan langkah kakinya yang semakin cepat.
“Iya Pak.!” Sahut ku.
“Tidak biasanya kamu kesiangan Cung. Kenapa?” tanya Bapak dengan suara datar.
“Emm, semalam Ncung gak bisa tidur Pak. Nyamuknya banyak banget.”
Bapak tidak berkata lagi. Aku tahu, Bapak pasti merasa bersalah. Karena sedang tidak ada uang untuk membeli obat nyamuk bakar semalam.

Akhirnya, kami tiba di sebuah sungai. Sungai terbesar di kampung kami. Untuk menyemberang, sekitar 15 meter jarak jauhnya. Tidak seperti biasa, kuperhatikan arus sungainya sedikit kencang. Kekhawatiranku memuncak dan jantungku mulai berdegup kencang. Aku rasa Bapak juga sedikit cemas meski terlihat tetap tenang memperhatikan arus air. Kualihkan pandanganku pada jembatan kayu buatan warga dulu yang telah lama ambruk karena rapuh. Sudah sekitar satu tahun jembatan satu-satunya akses kami untuk menyeberang sungai ini tidak diperbaiki, karena kekurangan dana.

“Ayo Cung. Masuk.” Seruan Bapak mengejutkanku dari lamunan. Bapak melebarkan mulut plastik bening berukuran besar, seukuran karung beras. Cukup muat untuk ukuran badanku yang kecil.
“Pak, arus sungainya kencang.” Aku tidak segera masuk ke dalam plastik karena cemas.
“Tidak Cung. Jangan Khawatir. Ini sedikit Kencang saja. Ayo, nanti ketinggalan belajarnya.” Seru Bapak dengan tetap tenang.

Aku mulai memasukan kakiku satu persatu ke dalam plastik. Sampai akhirnya seluruh tubuhku berada di dalamnya dengan posisi meringkuk. Kemudian, bapak memasukan udara, lalu mengikatnya. Ini biasa kami lakukan saat akan pergi ke sekolah yang berada jauh menyeberang sungai. Ide Bapak saat jembatan tidak bisa di gunakan lagi untuk menyeberang. Karena berfikir airnya mengalir tidak terlalu deras dan kedalaman air yang setinggi antara pinggang dan dada orang dewasa, munculah ide ini dari Bapak, agar seragam yang aku kenangan tidak terkena air, dan agar aku tetap bisa sekolah. Karena jika menggunakan rakit atau perahu, arus air akan membawanya ke hilir dan sulit di kendalikan. Dua teman dari sekampungku juga melakukan hal yang sama selama kurang lebih satu tahun ini. Dan hari ini, kedua temanku sudah berangkat ke sekolah lebih awal pastinya.

Bapak melepaskan sandal jepitnya, dan mulai memasuki arus air. Tangan Bapak memegangi plastik dengan sangar erat. Perlahan-lahan aku sedikit mengapung. Jantungku berdegup. Saranya ingin segera sampai ke tepi sungai. Dengan hati-hati sekali Bapak menyeberangi sungai ini. Langkah kakinya meraba-raba dasar sungai agar tidak menginjak batu yang licin. Langkah demi langkah kaki Bapak memunculkan harapanku untuk segera sampai dengan selamat.

Sedikit lagi, Bapak akan sampai membawaku ketepi sungai. Tapi tiba-tiba saja.
Buurrrrrrrr… kaki Bapak terpeleset. Bapak berusaha menggapai-gapaikan tangan kanannya mencari sesuatu yang bisa diraih dan menahannya agar tidak terbawa arus. Jantungku hampir copot, Perasaanku kacau, rasa takutku memuncak, aku tak kuat menahan tangis. Tangan kiri Bapak semakin erat memegangi plastik tepat pada posisi ikatannya. Dan beruntunglah, Bapak berhasil menggapai akar pohon yang menjuntai ke sisi sungai, dan membawaku semakin dekat dan akhirnya sampailah kami di tepi sungai.

Bapak membuka ikatan tali plastik dan mengeluarkanku.
“Sudah, sampai.” Ucap Bapak dengan nafas yang masih terengah-engah. Aku mengeluarkan seluruh tubuhku dari dalam plastik, dan menatap Bapak yang duduk di bawah tanah.
“Hampir saja Cung. Haha.” Ucap Bapak lagi dengan sedikit tertawa. Pada situasi yang hampir merenggut nyawa, Bapak masih sempat tertawa. Bapakku adalah orang yang sangat hebat, melebihi para pejabat di kota sana.

Bapak melihatku sedang menyeka mata yang basah karena menangis ketakutan.
“Hufh, sudah jangan cengen. Masa begitu saja nangis kamu Ncung. Laki-laki harus berani, pantang menangis, yah!” Ucap Bapak lagi dengan mengelus kepalaku dan berdiri. Aku hanya mengangguk.
“Sudah sana ke sekolah. Belajar yang bener biar bisa jadi orang hebat.” Ucap Bapak lagi dengan semangat yang selalu terpancar dalam dirinya.
“Iya Pak, Assalamu’alaikum.” Aku meraih tangan Bapak dan berpamitan.

Beberapa langkah aku mulai menjauh dari sungai. Aku membalikan badan ke arah sungai lagi, dan terdiam beberapa saat melihat Bapak yang sudah berada di tengah sungai untuk menyeberang dan kembali ke rumah.

“Pak, Ncung janji akan belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh. Ncung tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan besar Bapak melawan arus sungai ini. Ncung akan menjadi orang hebat dan memiliki banyak uang untuk membangun desa dan jembatan di sungai ini. Agar kelak, adik-adik Ncung bisa dengan mudah dan aman menyeberangi sungai dan pergi ke sekolah. Aamiin.”

THE END

Demikian artikel tentang Mendiskusikan dan Mengemukakan Hal Menarik dari Isi Cerita Pendek Bhs. Indonesia Kls. X yang sempat kami bagikan pada kesempatan ini dan jangan lupa baca juga :