Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang Tepat

Contohsuratku.net - Karena Puisi adalah sebuah karya sastra yang memiliki Rasa dan makna yang dalam, maka dalam pembacaannya pu bukan hal yang gampang, membawakan puisi harus betul betul bisa menghayati isi danmakna puisi tersebut, dan untuk mengerti hal tersebut ikuti penjelasan kami tentang Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang Tepat berikut :

Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang Tepat

Bagaimanakah cara membawakan puisi yang baik itu? Berikut ini teknik dasar yang dapat Anda praktikkan untuk berlatih membaca puisi.
Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang Tepat
Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang Tepat

Teknik Dasar Membaca Puisi

  1. Kenali dulu gaya atau jenis puisi tersebut. Misalnya, puisi yang berisi perjuangan nantinya harus dibawakan dengan gaya semangat. Adapun jika puisi tersebut berisi hal yang penuh nilai-nilai religius dapat dibawakan dengan suasana syahdu.

  2. Hayati dan pahami isi puisi dengan interpretasi Anda sendiri. Hal ini akan membantu Anda merasakan bahwa puisi yang dibawakan nantinya akan menyatu dengan sanubari Anda sendiri.

  3. Selanjutnya, Anda dapat membaca secara berulang-ulang isi puisi tersebut. Mulanya, mungkin Anda bisa membacanya dalam hati kemudian mengucapkan secara bergumam. Selama menghayati dengan membaca berulang-ulang, janganlah Anda terpengaruh oleh suasana sekeliling. Tanamkanlah dalam diri bahwa Anda bisa masuk dalam isi dunia puisi tersebut. Dengan begitu, Anda akan menyatu dengan keseluruhan bait puisi dan makna di dalamnya secara penuh.

  4. Lakukanlah latihan membaca puisi dengan berulang-ulang. Sebelumnya, Anda dapat memberi tanda intonasi, tekanan, atau nada pada puisi yang akan Anda bacakan. Hal ini nantinya akan membantu Anda dalam mendeklamasikan isi puisi dengan pembawaan sepenuh hati. Sebagai langkah awal, lakukanlah latihan di depan cermin. Dalam hal ini, Anda sekaligus dapat menilai gesture serta mimik Anda sendiri. Selanjutnya, Anda dapat mempraktikkan pendeklamasian puisi di hadapan teman atau keluarga Anda. Silakan Anda meminta pendapat dari mereka. Hal ini akan lebih membantu Anda jika ada kritik atau masukan dari orang lain. Sebagai bahan latihan, bacalah dalam hati isi puisi berikut dengan saksama. Hayatilah maknanya.

Mmbaca Puisi dengan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda

Membacakan puisi merupakan kegiatan membaca indah. Untuk itu, pembaca harus memperhatikan empat hal, yaitu lafal, tekanan, intonasi, dan jeda. Hal tersebut dimaksudkan agar isi puisinya dapat terekspresikan dengan jelas. Dengan demikian, pendengar bisa memahami maksud penyairnya dengan baik.

Lafal
Lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa saat mengucapkan bunyi bahasa. Adapun yang maksud dengan bunyi bahasa, antara lain, [a], [c], [f], [h], [u], dan sebagainya. Pelafalan seseorang dalam berbahasa sering kali berbeda dengan orang lainnya. Berdasarkan pelafalannya itu pula, Anda dapat mengetahui asal daerah seseorang karena memang beberapa kelompok masyarakat memiliki warna pelafalan yang khas. Misalnya, orang Aceh dalam melafalkan bunyi [e], berbeda dengan yang di ucapkan oleh orang sunda. Begitu pun dengan orang Jawa dalam mengucapkan bunyi [d] berbeda dengan orang Makasar.

Meskipun demikian, terlepas dari mana asal daerah Anda, dalam melafalkan suatu bunyi bahasa haruslah jelas, Bunyi-bunyi itu tidak boleh tertukar dengan bunyi-bunyi bahasa lainnya. Misalnya, bunyi [p] dengan [b], [k] dengan [h], atau [o] dengan [u].

Untuk melatih ketepatan dalam melafalkan bunyi bahasa, Anda harus melakikan vokal, misalnya mengucapkan bunyi-bunyi vokal atau konsonan secara cepat dan bervariasi.


Tekanan
Tekanan (nada) adalah keras-lunaknya pengucapan suatu kata . Tekanan berfungsi untuk memberikan tekanan khusus pada kata-kata tertentu. Kata yang ingin ditonjolkan pesannya perlu dibacakan dengan keras dibandingkan dengan kata lainnya.Tinggi-rendahnya tekanan dapat membedakan bagian kalimat yang satu dengan bagian lainnya yang tidak penting.

Contoh:
a) Pada bulan Juni banyak terjadi hujan (bukan pada April ataupun bulan lainnya).
b) Pada bulan Juni banyak terjadi hujan (bukan sedikit dan bukan jarang).
c) Pada bulan Juni banyak terjadi hujan. (bukan longsor ataupun peristiwa alam lainnya).

Perhatikan bait puisi berikut.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Untuk menentukan kata yang perlu mendapat penekanan dalam bait puisi di atas, terlebih dahulu Anda perlu memahami maksud baitnya secara keseluruhan. Anda dapat memperkirakan sendiri, yang penting, maksud dari kata-kata itu dapat tersampai dengan jelas kepada para pendengar. Misalnya, kata yang perlu mendapat tekanan keras adalah tak ada, bulan Juni, rintik, dan pohon. Dengan demikian, Anda perlu menggarisbawahi kata-kata itu sehingga Anda dapat membedakannya ketika puisi itu dibacakan.

Contoh:
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu 

Intonasi
Intonasi adalah naik-turunnya lagu kalimat. Perbedaan intonasi dapat menghasilkan jenis kalimat yang berbeda, yakni kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru.

Penggunaan intonasi dalam puisi sangat penting agar pembacaannya tidak menonton sehingga pendengar pun lebih tertarik. Intonasi juga berguna dalam memperjelas dan membedakan maksud/pesan dari setiap larik. Untuk itu, sebelum Anda membacakannya, Anda perlu menandai, misalnya dengan garis yang menanjak atau menurun.
Dengan demikian, Ada akan mudah dalam membedakan intonasi dari setiap larik ketika puisi itu Anda bacakan.

Jeda
Jeda adalah hentian arus unjaran dalam pembacaan puisi yang ditentukan oleh peralihan larik. Jeda berpengaruh pada jelas-tidaknya maksud suatu kata atau larik. Dalam penggunaannya, jeda panjang. Jeda pendek digunakan antarkata dalam suatu larik. Jeda sedang digunakan pada bagian-bagian larik yang bertanda koma dan antarfrase, sedangkan jeda panjang digunakan pada pergantian larik.

Contoh :
tak ada/ yang lebih arif/ /
dari hujan /bulan juni/ /
dibiarkannya /yang tak terucapkan/ /
diserap/ akar pohon/ bunga itu/ /

Faktor Non Kebahasaan yeng Berpengaru dalam Membawakan Puisi

Faktor non kebahasaan atau ekspresi terbagi menjadi beberapa hal antara lain sikap, gerak gerik dan mimik, volume suara, serta kelancaran dan kecepatan. Simak penjelasannya berikut ini.

Sikap
Sikap merupakan kunci kesuksesan membaca puisi dihadapan orang, maka dari itu diperlukan penguasaan sikap yang sempurna oleh pembaca. Selama membaca puisi, sebaiknya pembaca berusaha mendapatkan perhatian yang positif dari pendengar atau penonton. Hal yang harus dilakukan adalah sikap yang wajar dan ketenangan menghadapi orang lain. Untuk dapat menguasai dua hal tersebut, pembaca dituntut untuk berlatih dan menguasai puisi yang akan dibacakan secara matang agar ketika tampil tak akan gugup dan sikap yang ditunjukan dapat sempurna.

Gerak-gerik dan Mimik
Gerak gerik dan mimik adalah faktor yang penting dalam membaca puisi didepan orang banyak. Penggunaan gerak-gerik dalam pembacaan puisi dapat membangkitkan gairah pendengar untuk mendengarkan puisi yang anda bawakan. Selain itu penggunaan mimik yang tepat sesuai dengan tema puisi juga haruslah dilakukan dengan baik agar seolah-olah pembaca ikut mengalami dan merasakan apa yang terdapat di dalam puisi yang dibacakan. Oleh karena itu, pembaca dituntut untuk memahami materi puisi dan mendalaminya dengan sungguh-sungguh agar mimik yang didapatkan bisa sempurna.

Volume Suara
Volume suara yang digunakan sebaiknya menyesuaikan tempat dan jumlah perkiraan jumlah pendengar. Jika pembacaan puisi dilakukan di tempat yang terbuka maka sebaiknya volume suara lebih lantang dan jika pembacaan puisi di dalam ruangan volume suara harus menyesuaikan luas tempat agar pendengar dapat nyaman mendengarkan puisi yang anda bacakan. Untuk pementasan puisi saat ini sangat banyak menggunakan pengeras suara atau mic. Maka dari itu pembaca puisi juga harus menguasai teknik penggunaan mic agar suara yang dihasilkan tidak sumbang, tidak terlalu pelan ataupun tidak terlalu keras.

Kelancaran dan Kecepatan
Kelancaran dan kecepatan sangat mempengaruhi pendengar dalam menikmati puisi yang dibawakan. Kedua hal tersebut harus benar-benar dicermati agar pendengar dapat menikmati puisi yang dibacakan dengan baik serta pesan yang ada di dalam puisi juga dapat tersampaikan. Kelancaran membaca puisi erat kaitannya dengan latihan, karena hanya dengan latihan maka akan didapatkan kelancaran membaca yang baik. Selain itu kecepatan membaca juga harus diperhatikan, apabila kecepatan membaca puisi terlalu cepat maka pendengar akan sulit memahami isi puisi dan jika terlalu lambat juga akan membuat pendengar jenuh.

Demikian artikel tentang Membacakan Puisi dengan Lafal, Nada, Tekanan & Intonasi yang  yang sempat kami bagikan pada kesempatan ini dan jangan lupa baca juga :